METODE PENELITIAN KUANTITATIF
Pewawancara: Afifatun Nadzifah
Narasumber: AZ
HASIL WAWANCARA:
Wawancara Tidak
Terstruktur:
Untuk menggali ada atau tidaknya permasalahan yang dialami oleh Al,
peneliti menggunakan wawancara tidak struktur. Teknisnya ini , peneliti
engajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum untuk menggali data dan
memancing subjek untuk bercerita lebih banyak, seperti:
1.
Bagaimana
kabar anda dirumah?
2.
Apakah hari-harimu berjalan dengan lancar?
3.
Apakah
ada masalah yang mengganggu diri kamu?
Kemudian, diketahui bahwa AZ memiliki masalah dalam dirinya. Ia
memiliki kesulitan dalam kepercayaan diri di lingkunganya. Subyek bercerita,
bahwa dia sulit untuk adaptasi dan bersosial dengan orang yang disekitarnya. AZ
seorang anak yang pendiam tetapi dia suka dengan keramaian. Tapi dia selalu
meara kurang percaya diri jika ada didalam suatu kelompok atau forum untuk
menyampaikan sesuatu atau pendapat yang ingin AZ sampaikan. Ia merasa tidak pd
jika berbicara di dalam kelas, untuk beridkusi dan menjawab suatu pertanyaan.
Ia takut untuk menjawab. Setelah mengetahui masalah AZ secara umum, peneliti
mengajukan pertanyaan kembai:
4.
Saya
menyimpulakn bahwa kamu mengalami krisis kepercayaan diri, bagaimana dengan
lingkunganmu?
AZ menjawab,
bahwa ia jarang ikut berkumpul dengan banyak orang. Orang dilingkunganya sangat
banyak orang-orang yang pintar, selalu juara ketika sekolah, sedangkan AZ
merasa tidak seperti meraka. Ia merasa bahwa ia tidak bisa seperti mereka
(teman-temanya).
Wawancara
Terstruktur:
Setelah diketahui permasalahan secara umum, kemudian peneliti
menggunakan wawancara terstruktur.
Pertanyaan yang diajukan:
1.
Apakah
kamu sulit untuk beradapstasi?
2.
Apakah
kamu sering merasakan hal seperti itu?
3.
Faktror
apa yang memebuat kamu tidak prcaya diri?
4.
Apakah
kamu sudah mencoba untuk menghilangkan rasa itu?
Hasilnya, diperoleh informasi bahwa ia tidak selalu sulit untuk
beradaptasi, tetapi hanya dalam mengungkapkan sebuah pendapat atau ucapan yang
berada dalam suatu kelompok atau forum. Ia merasa sulit dan tidak percaya diri
untuk memberikan masukan atau berpendapat. Faktor utama yang membuat ia tidak
percaya diri yaitu dia tidak terbiasa berbicara dalam suatu forum atau
kelompok. Ia sudah beberapa kali mencoba untuk menghilangkan rasa ketidak
percayaan diritu, tetapi masi belom bisa menghilangkan sepenuhnya.
Perbedaan Dan
Persamaan Wawancara Terstruktur Dan Tidak Terstruktur:
Pada wawancara tidak terstrukur, dilakukan secara spontan seperti
berbincang-bincang seperti biasanya sehngga subyek tidak merasa bahwa dia
sedang diwawancara. Pertanyaanya juga bersifat umum, hanya sebatas penggalian
informasi umum mengenai masalahnya.
Sedangkan wawancara terstruktur, dilihat dari
pertanyaan-pertanyaanya yang struktur dan terancang sesuai pedoman wawancara.
Pertanyaanya juga lebih menggali informasi yang lebih dalam dan terperinci.
Persamaannya adalah sama-sama memberikan pertanyan untuk penggalian
data dari subyek yang diteliti.
Hasil
Observasi:
Observasi yang dilakukan oleh peneliti ini merpakan observasi non partisipan,
dimana peneliti ini tidak turut dan terjun lagsung mengmati permasalahan yang
di alami AZ secara langsung. Melainkan hanya sebatas pengamatan tidak langsung
melalui bahasa verbal dan non verbal yang saling bersangkutan. Hasilnya dari
peneliti mengamati bahwa AZ mengalami masalah krisis kepercayaan diri.
Jikan dilakukan observasi secara partisipan akan ditemukan
informasi atau hal-hal yang lebih detail mengenai permasalahan AZ.
Kuesioner:
|
No
|
Pernyataan
|
STS
|
TS
|
KK
|
S
|
SS
|
|
1
|
Saya merasa
yakin ketika harus presentasi di
depan kelas
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Saya akan
berani memulai pembicaraan bila sudah
ada orang
lain yang memulainya terlebih dahulu.
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Saya akan
memilih untuk diam, walaupun saya
dapat
menjawab pertanyaan yang ada.
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Saya merasa
yakin ketika saya harus menjawab
pertanyaan
yang ada.
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Saya merasa
bahwa teman saya lebih baik dari
saya ketika
presentasi.
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Ketika
berdiskusi, pendapat yang saya sampaikan kurang menarik.
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Saya yakin
ketika mengungkapkan pendapat di
kelas.
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Saya kurang
berani ketika dipilih untuk tampil di
depan kelas
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Saya merasa
yakin ketika menjelaskan materi di
kelas.
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Saya
merasa kurang yakin dengan jawaban yang saya sampaikan.
|
|
|
|
|
|
|
11
|
Ketika mampu
mencari jawaban dalam kelompok,
maka saya
merasa berguna untuk kelompok.
|
|
|
|
|
|
|
12
|
Hasil
presentasi kebanyakan adalah hasil dari ide saya.
|
|
|
|
|
|
|
13
|
Saya akan
puas ketika orang lain tidak dapat
menjawab
pertanyaan yang saya ajukan.
|
|
|
|
|
|
|
14
|
Saya merasa
bangga ketika saya mampu
|
|
|
|
|
|
|
15
|
Saya dengan
spontan akan bertanya ketika saya
tidak paham
akan materi yang ada.
|
|
|
|
|
|
|
16
|
Saya
menghargai setiap pendapat dari orang lain.
|
|
|
|
|
|
|
17
|
Lebih sering
orang lain yang presentasi di kelas
ketimbang
diri saya sendiri.
|
|
|
|
|
|
|
18
|
Biasanya
jawaban yang saya ajukan selalu benar.
|
|
|
|
|
|
|
19
|
Ketika guru
mengajukan pertanyaan, saya
mengajukan
diri untuk menjawab tanpa disuruh.
|
|
|
|
|
|
|
20
|
Saya merasa
malu ketika bertanya kepada teman
ataupun guru.
|
|
|
|
|
|
|
21
|
Saya merasa
mampu ketika harus menyampaikan
materi di depan
banyak orang.
|
|
|
|
|
|
|
22
|
Saya
melibatkan diri secara aktif ketika berdiskusi
dengan
kelompok.
|
|
|
|
|
|
Komentar
Posting Komentar